Rabu, 18 Februari 2015

[REVIEW] Wonderstuck By Brian Selznick

18874852

Judul: Wonderstuck
Penulis: Brian Selznick
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 9789794336854
Tahun terbit: November 2013
Jumlah halaman: 648 hlm
Harga: Rp. 25.000,00


Kawanan serigala itu menatap Ben lekat dengan taring-taring putih berkilat dan lidah merah menjulur. Mereka mulai berlari melintasi hamparan salju tak berbatas di bawah terpaan sinar bulan. Jantung Ben berdegup bertalu-talu. Keringat mulai mengucur deras. Mimpi yang sama. Apa maksud semua ini? Mengapa mimpi-mimpi itu terus menghampirinya sejak kecelakaan itu terjadi? Andai Ben tahu, mimpi-mimpi itu barulah awal dari rentetan kejutan dalam hidupnya dan … petunjuk berharga untuk menemukan sang ayah yang lama menghilang.


Wonderstruck, disanjung pembaca di seluruh dunia sebagai salah satu buku menakjubkan. Ilustrasi yang sarat makna berpadu dengan teks yang mengalir menjadi satu cerita yang utuh, membuat Selznick layak disebut genius.


***

“Ia tahu bahwa khayalan itu kekanak-kanakan, tetapi bayangan itu tak mau pergi.” (hal. 30)

Ketika kemarin saya mendapati salah satu toko buku sedang menyediakan harga khusus untuk koleksi-koleksinya, saya terpaku pada Wonder Struck. Besoknya, saya langsung ke MMI Banjarmasin dan membeli buku ini. Dan sekarang, mari saya ceritakan pertualangan saya ketika menjelajahi Wonder Stuck bersama Ben.

Setiap malam ketika ia tidur, Ben selalu bermimpi tentang serigala yang mengejar-ngejarnya. Di suatu malam dengan hujan yang lebat, Ben tiba-tiba saja melangkahkan kakinya menuju rumah yang dulu ia dan almarhumah ibunya tinggali. Di sana, ia menemukan sesuatu tentang ayahnya yang sejak dulu tak pernah diketahuinya, apalagi ditemuinya. Tetapi, ketika Ben melakukan sesuatu untuk mencari jawaban atas hal-hal yang menghidupkan rasa penasarannya, sesuatu hal tiba-tiba saja terjadi. Dan, ketika bangun, tahu-tahu Ben sudah berada di rumah sakit dan mendapati bahwa dirinya tuli. Sejak saat itu, Ben melakukan perjalanan sendiri untuk mencari ayahnya. Ben pergi ke New York, tetapi sayangnya, uang yang dibawanya dari tempat tinggalnya di Gunflint Lake dicuri sehingga Ben terpaksa harus mencari ayahnya tanpa bekal apa pun kecuali sebuah kalung berbandul.

Di tengah perjalanan, Ben bertemu dengan seorang gadis yang memberikankan sebuah ‘tempat tinggal’ di dalam museum. Di sana, Ben menemui banyak sekali hal-hal luar biasa yang ia lewati bersama gadis itu. Dan untuk suatu hal, Ben bertemu dengan seorang nenek tua yang selalu mengunjungi museum itu.
 “Mungkin sebagian dari diriku, yang tahu bahwa jantungnya lemah, ingin agar bagian dirinya tetap berada di sini.” (hal. 576)

Brian Selznick menyeduhkan novel ini dengan alur maju-mundur. Sepanjang cerita sebelum halaman-halaman terakhir, sketsa tentang seorang anak perempuan yang tuli selalu membuat saya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, seperti: Bukannya ini kisah tentang Ben, ya? Kok malah ada anak cewek ini, sih? Hingga, akhirnya, saya mengerti maksud dari ilustrasi-ilustrasi itu.

Harus saya akui bahwa Brian Selznick memang mampu membuat saya bertanya-tanya hingga akhir cerita, khususnya untuk ilustrasinya yang luar biasa. Tetapi, rasanya saya lebih menyukai karya Brian Selznick yang saya baca sebelum ini, yaitu The InventionOf Hugo Cabret. Saya memang mengacungi jempol untuk keberanian Ben dalam hal mencari ayahnya, tetapi entah kenapa, saya lebih menyukai Hugo dengan segala caranya.

Over all, Brian Selznick tetap menjadi salah satu daftar pengarang kesukaan saya. Dan saya, menantikan karya-karya Brian Selznick selanjutnya. ^^


“Mungkin, kita semua adalah lemari keajaiban.” (hal. 577)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar