Rabu, 18 Februari 2015

[REVIEW] Madre by Dee

11924352


Judul: Dee
Penulis: Madre
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 9786028811491
Tahun terbit: Juni 2011
Jumlah halaman: 162 hlm
Harga: Rp. -

“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?

Darah saya mendadak seperempat Tionghoa,

Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,

Bersama kakek yang tidak saya kenal,

Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Terdiri dari 13 prosa dan karya fiksi, Madre merupakan kumpulan karya Dee selama lima tahun terakhir. Untaian kisah apik ini menyuguhkan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno, dialog antara ibu dan janinnya, dilema antara cinta dan persahabatan, sampai tema seperti reinkarnasi dan kemerdekaan sejati.

Lewat sentilan dan sentuhan khas seorang Dee, Madre merupakan etalase bagi kematangannya sebagai salah satu penulis perempuan terbaik di Indonesia.


***
“Karena sebetulnya ndak ada yang sanggup menjual ibunya sendiri.” (hal. 38)

Dee menyuguhi saya dengan satu bacaan yang tak bisa membuat saya berhenti untuk membalik halaman-halaman selanjutnya. Madre. Satu lagi kumpuan cerpen yang di tulis oleh Dee selama lima tahun terakhir. Di dalamnya,  ada 13 prosa dan karya fiksi yang tak bisa membuat saya untuk berhenti membaca.

“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” (hal. 49)

Madre, menyambut saya di halaman pertama. Ini bercerita mengenai Tansen, seorang pemuda yang datang jauh-jauh ke Bali hanya untuk menghadari pemakan seseorang di Jakarta. Bukan untuk menghadiri pemakaman itu, sih. Lebih tepatnya, mengunjungi ‘warisan’ yang ditinggalkan oleh orang tersebut. Awalnya, Tansen mengira ia mendapatkan sesuatu yang istimewa. Namun, ternyata yang ia dapatkan hanyalah Madre dan sebuah toko roti tua yang dikatakan oleh kakek tua penjaga toko roti itu bahwa itu semua adalah warisan dari kakeknya. Karena semua tak sesuai dengan harapannya, Tansen pun memutuskan untuk kembali ke Bali dan memberikan toko kue tua itu kepada si kakek penjaga toko. Tetapi, ktika salah satu pengunjung blog setianya menyatakan ketertarikannya terhadap toko kue tua itu, sesuatu hal terjadi.

“Tolong ingatkan aku, pintamu. Aku memilihmu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sama lain, lanjutmu lagi. Saat kita berdua masih sama-sama ingat. Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin ini.” (hal. 74)

Di halaman-halaman selanjutnya, saya kembali diajak berpetualang oleh Dee. Saya menjumpai ‘Rimba Amniotik, Perempuan dan Rahasia, Ingatan Tentang Kalian, Have You Ever, Barangkali Cinta, hingga seduhan-seduhan lainnya. Dan saya memutuskan untuk menjatuhkan cerita favorite saya pada tiga seduhan yang menurut saya paling berkesan: Madre, Have You Ever, dan Menunggu Layang-Layang.

“… Lepaskan saya seperti saya melepaskan kamu. Hanya dengan begitu kamu nggak pernah kehilangan saya. Kamu nggak pernah kehilangan apa pun.” (hal. 119)

Madre adalah salah satu karya Dee kesukaan saya karena bahasa yang digunakan tidak terlalu berat seperti pada Puteri, Kesatria, dan Bintang Jatuh hehe. Dan, saya harap, saya bisa membaca lebih banyak karya Dee yang lainnya. Terimakasih, Dee. ^^


“Kami saling menghindari seperti menjauhi wabah penyakit.” (hal. 142)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar