Jumat, 27 Februari 2015

[REVIEW] Katarsis ny Anatasia Aemilia

17786536

Judul: Katarsis
Penulis: Anatasia Aemilia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 9789792294668
Tahun terbit: April 2013
Jumlah halaman: 264 hlm
Harga: -

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

***

"Memori bukan sesuatu yang bisa kuhilangkan seperti cincin kawin, Nak." (hal. 19)

Tara Johandi, salah satu anggota keluarga Johandi yang selamat dari pembunuhan yang menewaskan seluruh keluarga Johandi dengan tragis. Beberapa korban lainnya ditemukan dengan keadaan yang mengenaskan. Tetapi Tara, ia ditemukan di dalam sebuah kotak perkakas kecil yang dipaksakan untuk menutupi seluruh tubuhnya.

Alfons, seorang psikolog yang menangani Tara sejak dulu langsung datang ke tempat kejadian dan selalu menemani Tara dalam masa pemulihannya. Hanya saja, satu yang tak pernah berubah dari Tara; uang logam lima rupiahnya. Alfons pun berusaha keras untuk 'menyembuhkan' Tara dari ketergantungannya akan hal-hal yang dianggap oleh sebagian orang aneh. Tetapi, ketika semuanya hampir berjalan sesuai rencana, Ello kembali muncul dalam kehidupan gadis itu.

"Jika dia mengira kata maaf sudah cukup untuk membuat dirinya kembali bisa bermimpi indah, dia berharap terlalu besar." (hal. 57)

Ketika bertemu dengan seorang pria pada saat sedang berlari untuk menunggu Alfons, Tara merasa jika ia sudah mengenal lama pria itu. Tetapi, nyatanya, tak ada yang membuktikan bahwa mereka berdua pernah bertemu sebelumnya. Rutinitas kehidupan seorang Tara Johandi pun tetap berjalan seperti hari-hari biasanya. Hanya saja, sekarang Ello menjadi salah satu tokoh baru dalam kehidupan dramanya.

Semuanya memang berjalan biasa-biasa saja; Tara yang sudah bisa dikatakan (hampir) pulih, perasaan anehnya terhadap Ello, dan masa lalu yang ditutup-tutupinya. Hingga, suatu kejadian menyebabkan Tara kembali dihantui oleh monster masa lalunya. Pembunuhan berantai yang korbannya ditemukan di dalam kotak perkakas kayu bersama uang logam lima rupiah. Persis seperti kejadian Tara dulu. Lantas, apa yang terjadi sesungguhnya?

"Ibuku selalu bilang, rasa sakit itu seperti kebahagiaan yang getir." (hal. 94)

Sesungguhnya, saya bukan pecinta thriller. Tetapi, karena melihat banyak sekali respons positif terhadap buku ini maka rasa penasaran saya pun langsung naik. Dannn, tadaaaaaa!!! Saya ketagihan untuk membaca buku-buku dengan genre yang seperti ini, hihi.

Kak Anatasia mampu membuat saya penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada si tokoh Tara ini. Mulai dari mengapa dia sampai terkunci di perkakas kotak kayu itu, kebenciannya terhadap kedua orang tuanya, sampai asal-usul mengapa ia jadi benci dengan nama 'Tara'' yang merupakan namanya. Memang, semuanya terjawab dengan beriringan di buku ini. Namun, sayangnya, hingga saat ini saya masih bertanya tentang alasan mengapa Tara membenci namanya sendiri.

"Kalau kau benar-benar percay pada sesuatu, tak ada yang tak mungkin terjadi." (hal. 154)

Di buku ini, Kak Anatasia mengajak kita untuk menyelami cerita dengan dua POV yang berbeda. Yang pertama dari sudut pandang Tara dan yang kedua dari sudut pandang Ello. Dari awal hingga akhir membaca buku ini, saya sudah sepakat bahwa tokoh favorite saya adalah Alfons. Dalam benak saya, Alfons terlihat seperti seorang pria bertanggung jawab yang benar-benar pantas diacungi jempol. Apalagi, dalam benak saya si Alfons ini juga ada darah Chinese-nya, plus ganteng! Lol.

Sumber: di sini

Selain tokoh Alfons, alur dan konfliknya juga membuat saya semakin menyukai buku ini (terlepas dari fakta bahwa ini adalah buku thriller pertama yang saya baca). Oh iya, saya berhasil menyelesaikan buku ini hanya dalam waktu beberapa jam. Jadi, bisa saya bilang jika buku ini adalah salah satu buku kesukaan saya.

Akhir kata, mungkin saya akan membaca lebih banyak buku dengan genre thriller lagi. Terimakasih banyak buat Kak Anatasia Aemilia atas karya debutnya yang sangat memikat! Ditunggu karya-karyanya selanjutnya. Omong-omong, ada yang punya rekomendasi buku thriller lainnya? :)

"Rasa sakit itu ada untuk melindungimu, untuk mengajarimu banyak hal." (hal. 182)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar