Jumat, 27 Februari 2015

[REVIEW] Happily Ever After by Winna Efendi

23634830

Judul: The Chronicles Of Audy: 21
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 9789797807703
Tahun terbit: Desember 2014
Jumlah halaman: 365 hlm
Harga: Pemenang kedua Dinoy's Books Review 2014 Challange

Tak ada yang kekal di dunia ini.
Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.

Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.

Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.

Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan...

Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.

Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.
 


 ***
"Hanya sebuah cerita nggak berakhir sesuai keinginan kita, bukan berarti cerita itu nggak bagus." (hal. 7)

Menurut Lulu, hidupnya sudah sempurna; Ia mempunyai Ayah yang selalu membacakan dongeng untuknya, Mamahnya, Anjing peliharaannya, dan sahabat karibnya Karin, dan kekasihnya Ezra. Hingga, sesuatu mengubah Karin yang awalnya itik buruk rupa sepertinya, menjadi angsa yang menjadi magnet bagi semua orang. Karin berubah, ia seperti tidak pernah mengenal Lulu. Padahal, dulu mereka berdua selalu menjalani semuanya bersama; berpetualang, membaca cerita detektif, dan berbagai hal menyenangkan lainnya. Dan dari beberapa hal yang tidak bisa Lulu tentang pikirkan tentang Karin, ada dua hal yang benar-benar mengecewakannya: Ezra, kekasihnya yang telah menjadi kekasih Karin, dan persahabatan mereka.

"Setiap orang seharusnya bebas menjadi siapa pun yang dia mau, Lu.Yang dia butuhkan adalah keberanian untuk melakukan itu." (hal. 46)

Di sekolahnya yang baru, Lulu kerap mendapatkan bullying dari teman-temannya (termasuk Karin). Dan, seakan semua itu belum cukup, Ayahnya yang kerap membacakan dongeng untuknya pun terbaring lemah karena suatu penyakit yang benar-benar dibencinya. Ayahnya terpaksa harus keluar-masuk rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Di sanalah karin bertemu dengan Eli, seorang pemuda yang mengidap kanker otak dan selalu ditemani oleh kamera polaroidnya. 

"Harusnya, gue benci sama lo. Tapi, yang gue rasain adalah kangen. I wonder if you ever feel the same way." (hal. 66)

Pertemuan Lulu dan Eli benar-benar lucu. Waktu itu, Lulu mendapati seorang anak lelaki yang sedang bermain tetris di bawah ranjang. Lulu belajar banyak hal dengan Eli, salah satunya adalah tentang kematian dan kehidupan. Ketika Eli dan Lulu berada pada suatu lorong yang menyeret pada mereka pada suatu hal yang tak bisa dijelaskan, hal-hal dari masa lalu mereka kembali datang. Akankah mereka bisa terus menyelesaikan petualangan yang belum mereka selesaikan?

Sumber: di sini
".... kadang kita jadi lupa buat benar-benar hidup." (hal. 98)
Tadaaa! Setelah berandai-andai untuk memabca Happily Ever After, akhirnya kesampaian juga. Fiuh. Terimakasih banyak Kak Dinoy karena waktu itu sudah memberikan pilihan tentang hadiah reading challange-nya! ^^

Happily Ever After, setiap bab dalam buku ini dibuka dengan quotes-quotes yang manis. Pun, dengan cara bertutur Kak Winna yang selalu membuat pembaca terlarut dalam ceritanya. Di sini, Kak Winna menempatkan dirinya sebagai Lulu, sehingga kita akan dibawa berkelana dengan lebih banyak cerita tentang Lulu. Saya bukan tipikal orang yang tahan dengan genre family, terutama tentang ayah. Jadi, ketika saya membaca tentang ini, saya langsung teringat akan seseorang.

"Aku percaya, orang-orang yang ditakdirkan untuk ada di sisi kita, pada akhirnya akan ada bersama kita, Lu. Mereka yang ingin pergi nggak bisa dipaksa untuk tinggal." (hal. 126)

Terkadang, ketika saya membaca baris selanjutnya, orang itu datang bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan saya tentang apa alasan Ezra lebih memilih Karin ketimbang Lulu? Bagaimana dengan masa lalu Eli? Apa Eli dan Ayah Lulu akan sembuh? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya. Dan, semuanya terjawab satu per satu secara perlahan.

Sumber: di sini

Karakter kesukaan saya dalam Happily Ever After adalah Eli, disusul oleh Ayahnya Lulu. Suatu saat, saya ingin memiliki suami yang seperti itu untuk anak-anak saya. Tapi, tetap, menurut saya Ayah saya adalah Ayah yang paling hebat! Hehe.

"Kadang-kadang, orang yang pergi akan kembali ke sisi kita." Itulah yang kunamakan kesempatan kedua. "Tapi, nggak jarang juga mereka yang pergi akan hilang selamanya. Dan yang menyedihkan adalah nggak sempat mengucapkan selamat tinggal." (hal. 157)

Katanya, Happily Ever After adalah novel pertama Kak Winna yang tidak mengangkat tema sahabat jadi cinta atau cinta segitiga. Sayangnya, saya belum bisa memastikannya karena saya baru membaca tiga novel Kak Winna (Refrain, Unbelievable, dan Happily Ever After). Tetapi, jika dibandingkan, mungkin dalam novel kali ini Kak Winna lebih dominan pada genre family-nya. Hanya saja, entah kenapa saya lebih menikmati Unbelievable. Tetapi, tetap, sejauh ini Happily Ever After masih menjadi salah satu novel favorite saya. Terimakasih, Kak Winna. :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar