Kamis, 18 Desember 2014

[REVIEW] People Like Us by Yosephine Monica

PeopleLikeUs


Judul: People Like Us
Penulis: Yosephine Monica
Penerbit: Haru
ISBN: 9786027742352
Tahun terbit: Juni 2014
Jumlah halaman: 330 hlm
Harga: Rp. 54.000,00

Akan kuceritakan sebuah kisah untukmu.
Tentang Amy, gadis yang tak punya banyak pilihan dalam hidupnya.
Serta Ben, pemuda yang selalu dihantui masa lalu.

Sepanjang cerita ini, kau akan dibawa mengunjungi potongan-potongan kehidupan mereka.
Tentang impian mereka,
tentang cinta pertama,
tentang persahabatan,
tentang keluarga,
juga tentang... kehilangan.

Mereka akan melalui petualangan-petualangan kecil, sebelum salah satu dari mereka harus mengucapkan selamat tinggal.

Mungkin, kau sudah tahu bagaimana cerita ini akan tamat.

Aku tidak peduli.
Aku hanya berharap kau membacanya sampai halaman terakhir.

Kalau begitu, kita mulai dari mana?

***

"Cerita ini memiliki pertalian dengan masa lampau, kisah tentang cinta pertama dan penantian yang telalu lama." (hal. 13)

Jadi, novel ini bercerita tentang Amy, seorang gadis yang menyukai Ben sejak mereka bertemu di kursus musik. Hanya saja, Amy terlalu pemalu hingga ia tidak pernah berbicara pada Ben dan menyimpan rasanya diam-diam, sendirian. Satu setengah tahun kemudian, Amy kembali bertemu Ben karena ternyata mereka berada di high school yang sama. Kehidupan Amy pun mulai kembali kepada segala hal yang berbau Ben. Bahkan, Amy sering menguntit Ben.

Entah darimana asalnya, gosip bahwa seorang Amy (si pembuat cerita tanpa akhir) menyukai seorang Ben (pemuda dingin dan sedikit 'kasar') tersebar entah darimana asalnya. Ben yang merupakan ketenangan pun menjadi risih dan membenci Amy akan hal itu. Hingga suatu hari, Amy didiagnosis mengidap sebuah penyakit mematikan. Hari-hari yang penuh dengan Ben pun terpaksa harus berhenti dan igantikan oleh hari-hari menyebalkan selama di rumah sakit.

Ketika kau tidak bisa mengingat seseorang–seseorang yang menganggapmu sangat penting, apa yang seharusnya kau rasakan? Apa yang akan kau lakukan?” (hal 50)

Lana, sahabat Amy, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu. Jadi, gadis itu menawari Ben untuk ikut dengannya guna menjenguk Amy. Awalnya, Ben tidak peduli hingga entah kenapa ia akhirnya bersedia untuk ikut menjenguk gadis itu. Kemudian, semuanya pun mengalir begitu saja. Mereka menjadi teman, menjadi dekat, bahkan mereka mulai menceritakan rahasia masing-masing. Namun, apakah pada akhrinya Ben akan membalas perasaan Amy? Atau Ben hanya memanfaatkan Amy karena ia juga ingin menjadi penulis dan gadis itu bisa mengajarinya akan hal itu?

"Jika kau bisa berhenti membenci seseorang, kau juga bisa berhenti menyukai seseorang. Itulah yang terjadi." (hal. 220)
sumber: di sini

Novel ini berlatarkan kota Boston dengan gaya penulisan yang terkesan seperti novel terjemahan. Tetapi, saya menyukainya. Rasanya, setiap kata-kata yang dituangkan oleh penulis mengalir begitu saja tanpa ada hal-hal yang harus dipikirkan muluk-muluk. Dialog antara Amy dan Ben pun juga bergulir dengan sederhana. Dan, hal itulah yang menyebabkan saya menyukai novel ini.

Saya berhasil menamatkan novel ini dalam dua hari. Dan, tadaaa! Inilah review-nya! Hehe. Ini adalah novel yang saya rekomendasikan, apalagi bagi orang-orang yang lebih menyukai menjadi seorang pengagum rahasia. Uhuk.

"Namun keluarga adalah cinta, dan cinta adalah pengampunan." (hal. 306)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar