Rabu, 31 Desember 2014

[REVIEW] Éclair: Pagi Terakhir di Rusia by Prisca Primasari

Éclair: Pagi Terakhir di Rusia

Judul: Éclair: Pagi Terakhir di Rusia
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 9789797804725
Tahun terbit: Januari 2011
Jumlah halaman: 236 hlm
Harga: -

Seandainya bisa, aku ingin terbang bersamamu dan burung-burung di atas sana. Aku ingin terus duduk bersamamu di bawah teduhnya pohon-berbagi eclair, ditemani matahari dan angin sepoi-sepoi. Aku ingin terus menggenggam jari-jemarimu, berbagi rasa dan hangat tubuh-selamanya.

Sayangnya, gravitasi menghalangiku. Putaran bumi menambah setiap detik di hari-hari kita. Seperti lilin yang terus terbakar, tanpa terasa waktu kita pun tidak tersisa banyak. Semua terasa terburu-buru. Perpisahan pun terasa semakin menakutkan.

Aku rebah di tanah. Memejamkan mata kuat-kuat karena air mata yang menderas. "Aku masih di sini," bisikmu, selirih angin sore. Tapi aku tak percaya. Bagaimana jika saat aku membuka mata nanti, kau benar-benar tiada?


***
"Aku tidak akan kembali ke Prancis atau Rusia," katanya. "Aku ingin, tetapi aku tidak bisa. Terlalu banyak kepedihan di sana, Claudine." (hal. 19)


Novel ini bercerita tentang lima orang sahabat, Ekaterina Fyodorovna, Sergei V. Snegov, Stepan V. Snegov, Lhiver Olivier, dan Kay Olivier. Persahabatan mereka berjalan baik-baik saja, meskipun ada beberapa di antara mereka yang sama-sama menyukai Ekaterina Fyodorvna (Katya). Hingga suatu hari, sebuah kejadian yang terjadi di kediaman Lhiver dan Kay menghancurkan segalanya. Lhiver merasa bahwa semua yang terjadi dikarenakan oleh Stepanych; ia kehilangan rumahnya, kedua orang tuanya, serta anak angatnya yang bernama Aiofe.


Karena kejadian itu, semuanya menjadi berbeda. Kay menikah dengan Claudine dan tinggal di New York. Lhiver tinggal di Surabaya dan menjadi salah satu pengajar di salah satu universitas di sana. Sergei menjadi seorang yang super-duper sibuk dan masih tetap menyimpan rasanya pada seorang Katya. Stepanych terpuruk hingga ia terserang sebuah penyakit yang membuatnya tidak sadarkan diri. Dan Katya, gadis itu benar-benar merasa sangat bersalah karena ia merasa bahwa semua itu salahnya. Ia merasa andai saja mereka tidak berteman dengannya, maka semuanya tidak akan terjadi.

Lantas, akankan kelimanya kembali berdamai dan mengulang kisah yang mereka bangun bersama-sama dahulu? Akankah Stepanych sadarkan diri? Apa yang sebenarnya terjadi pada Katya? Bagaimana kehidupan Kay dan Claudine di Amerka? Lalu, bagaimana dengan Sergei yang masih menyimpan rasanya pada Katya? Yuk, carikan jawabannya di buku ini!



"Ya, Tuhan.... kupikir aku akan kehilanganmu... Tolong jangan pernah berjalan terpisah lagi dari kami," (hal. 94)



Novel kedua dari Mbak Prisca yang saya baca (setelah Paris). Saya belinya di salah satu mall yang baru buka di Banjarbaru. Dan, novel ini tinggal satu! Makanya, beruntung banget saya bisa nemuin novel ini sebelum keduluan sama orang lain hehe. 

Sama seperti sebelum-sebelumnya, saya suka dengan cara bercerita Mbak Prisca. Alurnya mengalir. Dan, penokohan kelima sahabat ini selalu menjadi candu untuk membalik halaman selanjutnya. Apalagi, novel ini mengambil latar empat negara: Rusia, Amerika, Paris, dan Indonesia. Riset yang Mbak Prisca ambil juga selalu bikin saya ngacungin jempol.

Saya rasa, novel ini berbau misteri, ya? Hihi. Jadi, kalau yang suka dengan cerita detektif mungkin bisa untuk mencoba membaca novel ini. Oh iya, awalnya saya kira ini cerita romansa yang mendayu-dayu karena sinopsis di belakang bukunya. Taunya? Eh, di sini unsur persahabatannya lebih ditonjolkan. 

Hal yang paling saya suka dari buku ini adalah kilas balik setiap tokohnya, porsi para tokoh, dan diksi yang dipilih. Meskipun ada beberapa typo yang saya temukan, tetapi hal tersebut tidak mengurangi kenikmatan saya dalam memabaca buku ini. Terimakasih atas seduhan ceritanya, Mbak Prisca. Nggak sabar buat baca karya Mbak Prisca yang lainnya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar